
Kabar Untuk Ibu
Ibu…
Lewat lembaran kertas ini…
Kukabarkan…
Tentangku…
Disini…
Padamu…
Ibu..
Aku masih seperti dulu…
Terlunta lunta…
Terseok seok…
Mengais ngais keuntungan di reruntuhan hati
Tetapi…Ibu…
Aku tegar
Kucoba bertahan…
Sabar seperti siput yang berjalan…
Tegar laksana batu karang
Karena bayang bayang keemasan itu…
Jelas nampak dalam gelap hidupku
Satu kuharap…Ibu…
Jangan kau alirkan air matamu…
Jika membaca suratanku
Tapi do’amu yang tulus
Kuharap menderai selalu…
Untukku…biar aku mampu
Jalani hidupku
Terasing…
Di negeri terasing
Tak banyak film yang mengangkat tentang realita kehidupan, terlebih kehidupan para TKW (Tenaga Kerja Wanita). Hal ini yang diangkat dalam film MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK yang mengangkat realitas kehidupan TKW di Hongkong, sarat makna dan pesan namun alurnya mudah
Tatiana (Alexandra Gottardo) terpaksa merelakan tinggal berjauhan dengan anak lelakinya, Mauro (Marcel Raymond), akibat berpisahnya Timor-Timur dari Indonesia. Tatiana tinggal di sebuah kamp pengungsian di Kupang NTT bersama putrinya, Merry (Griffit Patricia). Sementara, sang kakak, Mauro tinggal di Timor Leste, bersama pamannya.
Belajar tentang kehidupan tak harus selalu dari hal baik. Dari kejadian buruk, kita dapat memetik hikmah kemudian mempelajarinya agar tidak terulang. Mungkin, karena hal itulah film
NOT FOR SALE, memberikan benturan-benturan persoalan kehidupan remaja masa kini sepanjang film yang berdurasi 90 menit.
Perang Salib ketiga telah berakhir dan tiba saatnya buat Sir Robin Hood of Locksley (Russell Crowe) untuk pulang ke kampung halamannya di Nottingham. Karena terlalu lama meninggalkan Nottingham, Robin tak tahu kalau tanah kelahirannya sekarang berada di bawah tirani sang Sheriff.
Sheriff of Nottingham (Matthew Macfadyen) memanfaatkan kekuasaannya untuk menekan rakyat. Ia memberlakukan pajak dalam jumlah yang cukup besar sehingga sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan. Tidak ada yang berani melawan sang Sheriff karena mereka harus berhadapan dengan tentara sang Sheriff yang terkenal kejam.
Tak tega melihat rakyat menderita, Robin kemudian membentuk pasukan kecil dan berbekal kemahirannya memanah Robin mulai menebar teror buat tentara sang Sheriff. Setiap kereta yang berisi pajak buat sang Sheriff dirampok oleh Robin dan pasukannya dan harta yang mereka peroleh kemudian mereka bagian kembali pada rakyat.
Anda pasti sudah tak asing lagi dengan cerita di atas. Ya, meski sudah diulang berkali-kali tetap saja legenda itu menawarkan cerita yang sama, bahkan sampai pada saat Kevin Costner memerankan karakter ini dalam ROBIN HOOD: PRINCE OF THIEVES di tahun 1991 lalu. Nyatanya, ini tak membuat Ridley Scott puas. Maka diubahlah cerita standar itu menjadi bentuk penafsiran baru terhadap tokoh legenda ini.
Robin bukan lagi seorang bangsawan namun seorang prajurit bernama Robin Longstride yang kemudian mengambil alih identitas Robert Loxley dan bermaksud mengembalikan pedang milik kesatria yang tewas ini pada keluarganya. Saat bertemu keluarga mendiang inilah petualangan Robin dimulai. Senang rasanya melihat ada penafsiran baru dari legenda lama, sama persis dengan yang dilakukan Christopher Nolan pada Batman atau Tim Burton pada Alice in Wonderland.
Bagusnya lagi, Ridley Scott juga tak gegabah dalam membuat penafsiran baru ini. Paling tidak naskah yang dikerjakan Brian Helgeland, Ethan Reiff, dan Cyrus Voris terlihat cukup rapi. Masing-masing tokoh dibiarkan berkembang menjadi karakter tiga dimensi sehingga lebih bisa diterima penonton. Pemilihan aktor dan aktris yang tepat pun makin membuat film ini jadi sebuah tontonan yang memuaskan. Dipoles dengan penyajian kolosal ala GLADIATOR lengkap sudah nilai plus yang diberikan Ridley Scott pada para penonton.(kpl/roc)
Sumber : kapanlagi.com