Angkringan Tugu, Lik Man


Bagi kebanyakan pengunjung, malam di Jogja selalu terasa singkat karena banyaknya tempat menarik yang bisa dikunjungi saat malam. Sebut saja jalan Malioboro yang denyut kehidupannya terasa tak berhenti selama 24 jam. Wilayah seputaran Malioboro tak pernah sepi dari penikmat-penikmat udara malam dan kedamaian kota.
Seperti diketahui bersama, kehidupan dan selera malam di kota pelajar ini identik dengan lesehan. Dipopulerkan oleh pedagang nasi kaki lima Malioboro, istilah Lesehan dalam bahasa Jawa berarti duduk berselonjor santai di lantai. Konsep ini akhirnya berkembang dan diadaptasi oleh berbagai kalangan di kota ini maupun di tempat lain.

Di utara ruas jalan ini terdapat sebuah tempat jujugan penikmat suasana malam yang boleh dibilang paling terkenal di Jogja. Tempat ini adalah sebuah warung Angkringan yang terkenal dengan nama Angkringan Tugu. Nama Tugu diambil karena letaknya yang berada di tembok utara Stasiun Tugu dan terpaut hanya 300 meter dari Perempatan Tugu.
Banyak juga yang menyebutnya Angkringan Lik Man dari nama pemiliknya. Nama ini bahkan terdengar lebih mewakili angkringan ini sebagai salah satu legenda hidup sosial masyarakat Yogyakarta yang plural dan terbuka.Menurut beberapa sumber, Angkringan Tugu berawal Mbah Pawiro, pedagang angkringan keliling di daerah itu pada tahun 50-an. Pada era 70-an, Lik Man yang merupakan anak sekaligus penerus usaha Mbah Pawiro mulai berdagang menetap di tempat yang ia pakai hingga sekarang.

Bukan mengadaptasi konsep lesehan dari warung kaki lima Malioboro, Angkringan Tugu menjadi sebuah angkringan lesehan karena popularitas dan sejarahnya. Terlebih, angkringan ini berdiri jauh lebih dulu dari munculnya fenomena warung-warung lesehan di Malioboro. Saat ini, Angkringan Tugu telah menjadi legenda kehidupan masyarakat urban di Yogyakarta.

Angkringan Tugu buka dari sore hingga menjelang subuh. Karena konsep angkringan yang dari awal adalah warung kudapan ringan, berbagai makanan yang ditawarkan warung ini umumnya berkategori makanan ringan seperti berbagai gorengan, aneka baceman, dan tentu saja sego kucing yang terkenal itu. Minuman yang disediakan pun merupakan cita rasa umum Indonesia, seperti teh, kopi, wedhang jahe, jeruk hangat, atau susu.
Seperti telah menjadi sebuah trade mark, Sego Kucing selalu tersedia di semua angkringan. Disebut sego kucing karena porsinya yang sedikit dan lauk yang menyertai umumnya hanya sambal teri atau oseng-oseng tempe. Biasanya pengunjung langsung mengambil dua bungkus nasi dan beberapa potong gorengan atau baceman untuk disanding selama menikmati malam bersama orang-orang tersekat.

Yang terkenal di Angkringan Tugu adalah Kopi Jos. Kopi mulai jadi bahan pembicaraan sejak pertengahan awal tahun 2000 ini sekarang menjadi icon angkringan tugu. Kopi Jos adalah kopi yang dicelupi arang bara arang setelah diseduh. Bukan berasal dari merk sebuah minuman energi, Jos muncul dari interpretasi setempat atas bunyi yang ditimbulkan bara api ketika dicelupkan dalam seduhan kopi.

Sejak beberapa dekade lalu, angkringan Tugu sering menjadi tempat tukar pikiran para seniman lokal tentang berbagai isu dan kegelisahan mereka. Tak jarang, buah pikiran dan ide-ide kreatif mereka menjadi buah bibir di gedung-gedung pementasan di Jogja atau bahkan Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tak sedikit pula insan-insan kreatif Jogja lahir, ditemukan, atau muncul dari komunitas ini.

Jika anda mendapati Angkringan Tugu sedang ramai dikunjungi pelanggannya, hal ini bukan hal yang luar biasa dari angkringan ini. Meki sesak dengan orang orang yang sedang menikmati suasana malam dan makan malam ala angkringan, sangat jarang bahkan bisa dikatakan tak pernah ada orang yang jahil satu sama lain. Dalam suasana yang khas Jogja, tiap pengunjung akan merasa diterima sekaligus dipersilakan menikmati suasana dengan caranya sendiri-sendiri.
Dari berbagai sumber.

JhuChin Blog's All Right Reserved .W-Effendy